Alkisah, bongkahan besar batu alam dibawa oleh tukang batu dari sebuah perbukitan menuju tempat pemotongan/pemahatan. Di tempat pemahatan itu telah tersedia alat pemotong dan pembelah batu untuk dijadikan berbagai jenis kebutuhan properti seperti lantai, dinding, patung, dam sebagainya.

Singkatnya, pertama; bongkahan batu alam dibelah dan dipotong-potong menjadi (batu alam) lantai dengan berbagai ukuran, walaupun ada juga yang besar ukurannya namun menilik dari cara pembelahan dan pemotongannya sepintas terlihat lebih simpel.

Kedua; bongkahan batu alam dibelah dan dipotong-potong menjadi (batu alam) dinding dengan berbagai ukuran dan motifnya, walaupun ukurannya tidak sebesar (batu alam) lantai dan lebih kecil namun membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama dari (batu alam) lantai.

Ketiga; bongkahan batu alam tidak langsung dibelah dan dipotong namun langsung diolah dan dibentuk sehingga menjadi sebuah (batu alam) patung. Pengerjaannya paling rumit dibanding yang pertama (batu alam lantai) dan yang kedua (batu alam dinding) dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Prinsipnya; perlakuan terhadap batu alam sangat bergantung pada jenis bentukan yang diinginkan, batu alam yang dibuat untuk lantai tidaklah serumit/selama dengan batu alam dinding, bergitupun batu alam dinding tidak serumit/selama dengan batu alam patung.



 

Pada suatu event pameran, ketiga jenis batu alam (lantai, dinding dan patung) dipertemukan dan dikunjungi banyak pengunjung yang memadati arena pameran batu alam tersebut. Jarak ketiganya tidak saling berjauhan namun mereka disusun sesuai peruntukannya masing-masing; batu alam lantai di bagian dasar/bawah, batu alam dinding dipasang pada bagian  pinggir atas sebagai dinding dan batu alam patung dipasang di ruangan khusus tersendiri dengan penjagaan khusus.

Batu alam lantai seolah berbicara kepada batu alam dinding: “Hai batu alam dinding, aku sedikit cemburu padamu: kau ditempatkan sedikit lebih beruntung daripada aku, kau di atas sedangkan aku di bawah. Diriku terinjak-injak dan terkadang tidak ada yang memujiku, namun dirimu… banyak pengunjung yang memujimu: bagusnya…sembari memegangmu. Coba kalau dahulu aku lebih sabar dan tahan sedikit lama ketika diolah dan dibentuk, mungkin nasibku akan lebih dari sekedar terinjak-injak oleh orang lalu nan lalang.”

Batu alam dindingpun seolah menjawab penuh pesona: “Kalau dari sisi itu, iya sich…benar apa katamu; aku terlihat lebih mujur karena posisiku di tempelkan di dinding sedangkan kamu di bawah. Namun lihatlah saudara kita yang satunya itu (batu alam patung), ia ditempatkan di ruangan khusus dengan fasilitas dan perlakuan yang khusus pula, bahkan ia bisa bepindah ke berbagai tempat/negara mengikuti majikan/pembelinya. Bisa jadi kalau dulu kita lebih lama bersabar ketika ditempa, diolah dan dibentuk maka nasib kita akan lebih baik dari sekarang ini.”

Ilustrasi dari ketiga batu alam yang sudah terbentuk tersebut adalah sebuah gambaran betapa kesabaran akan berbuah sebanding lurus dengan kemampuan setiap individu dalam menghadapi tempaan. Ibarat seseorang yang lulus dari dunia pendidikan dengan ijazah SMA/SMK, maka akan sangat berbeda perlakuan dan penghargaannya dibanding lulusan S1 atau pun S2/S3. Seperti halnya tukang batu yang kesehariaanya mengangkat dan mengangkut batu dari sungai atau tempat penambangan, maka akan berbeda halnya seorang dokter (yang sudah menempuh study minimal S1) yang berusaha mengangkat sebuah batu kecil dari dalam tubuh manusia (semisal batu ginjal) maka seorang dokter tersebut akan lebih dihargai atau digaji lebih besar daripada tukang batu di sungai/penambangan; walaupun keduanya sama-sama mengangkat batu.

“Ash-Shabru kash-Shibri murrun fii mazaaqatihi, laakinna ‘awaaqibahu ahlaa minal-‘asali: sabar itu laksana empedu (pahit), akan tetapi dampak/akibatnya lebih manis daripada madu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *