Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dikenal beberapa term pengertian tentang dekat, yaitu:

  • DEKAT (berkaitan dengan jarak atau antaranya) artinya pendek, tidak jauh atau berhampiran.

Kita mendengar/mengenal antara lain tetangga dekat, maka artinya rumah tetangga tidak jauh (jaraknya atau berhampiran) dari rumah kita dan hal ini berkaitan dengan fisik (lokasi)

  • DEKAT (berkaitan dengan waktu) artinya hampir atau jelang.

Jika ada kalimat: sekarang sudah dekat dengan shubuh maka itu artinya hampir shubuh dan ini berkaitan dengan waktu.

  • DEKAT (berkaitan dengan persahabatan atau kekeluargaan/keturunan) artinya akrab, rapat.

Kalimat keluarga/saudara dekat maka artinya orang yang lebih rapat tali hubungan darah/kekeluargaannya dengan yang bersangkutan. Jika kalimat sahabat dekat maka itu artinya sahabat/teman yang lebih akrab dengannya, dan ini berkaitan dengan hubungan emosional.



Lain halnya dengan firman Allah Swt. yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf/50: 16-18).

Hablul Warid yang diartikan sebagai urat leher merupakan simbolisasi dari nafas ataupun ruh itu sendiri, sebagaimana kalau manusia ataupun hewan terputus/berhenti denyut urat lehernya maka bisa dipastikan ia akan mati (terpisahnya ruh dari jasad). Jadi Allah Swt. “Lebih Dekat daripada Urat Leher manusia” menngandung makna isyarat bahwa Dialah yang menguasai, mengetahui, memahami ruh manusia karena Allah Swt. jualah yang meniupkan/memasukkannya ke dalam tubuh/fisik manusia; Dia senantiasa menyertai, menemani, membersamai hamba-Nya di mana, kapan dan bagaimana pun berada karena Dia lebih dan paling DEKAT.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/36103-makna-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-lehernya.html

Allah Swt. senantiasa lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya menunjukkan bahwa Dia senantiasa mengetahui dan memahami apa yang diperbuat oleh manusia, baik yang lahir ataupun yang batin (tidak nampak) sekalipun dalam gerak hatinya. Hal ini menunjukkan kedekatan yang berbeda dengan arti dekat (baik yang berkaitan dengan jarak, ruang ataupun waktu), karena Allah Swt. sendirilah yang memiliki ketiga hal tersebut (ruang, jarak dan waktu). Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya walau se-detik/menit/jam atau se-milimeter/centimeter/meter/kilometer pun. Dia selalu bersama hamba-Nya.

“Dan jika hamba-hamba_Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka senantiasa ada dalam kebenaran” (Q.S. Al-Baqarah/2: 186)

Ke-DEKAT-an ini (Tuhan dengan hamba-Nya) yang menjadikan manusia dapat mengetahui dan merasakan mana yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan, senantiasa ada dalam kebenaran. Semoga kita senantiasa merasakan kedekatan Allah Swt. yang lebih dekat dari urat leher kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *