Pernah dengar atau bahkan mengucapkan sendiri: “Sabar itu ada batasnya.”

Lalu, benarkah sabar itu ada batasnya?

Saudaraku, Allah Swt. dengan kesempurnaan Dzat, Sifat dan Perbuatan-Nya, tidaklah dapat dihinggakan oleh manusia yang terbatas ruang dan waktunya. Dia menciptakan 7 langit dengan segala isinya, tidaklah bisa dibatasi atau dihinggakan batas antara langit ke-1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7. Andaikan suatu pulau diberi air hujan seketika, apakah masing-masing orang dapat meraih semua air yang dijatuhkan oleh-Nya? tentu tidak, dan hanya terbatas setiap orang menerima/mendapatkan air hujan tersebut.

Allah Swt. dengan sifat sabar-Nya, menuangkan rasa sabar kepada setiap orang ataupun makhluq-Nya yang lain; tentu tidak semua melainkan sedikit atau terbatas (sesuai kadar dan ukurannyamasing-masing). Kesimpulannya adalah bukan sabar itu yang ada batasnya, melainkan seseorang menerima/menyimpan rasa sabar yang terbatas. Semakin lapang hati seseorang maka semakin banyak rasa sabar tersimpan di dalamnya.



 

Syekh Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa sabar terdiri dari tiga tingkatan:1. Sabar dalam Meninggalkan Larangan (Maksiat)

Sabar dalam tingkatan ini adalah sabar yang paling rendah, mengapa demikian?

Karena hanya dibutuhkan DIAM dan tidak perlu bergerak atau membutuhkan banyak energi, cukup DIAM saja. Ketika seseorang diajak untuk berbuat tidak baik, berkata tidak baik, berpikir atau berniat tidak baik, maka cukup DIAM dan tidak melanjutkannya; DIAM dari berbuat/melakukannya, DIAM dari berkata tidak baik, DIAM dari berpikir/berniat.

Jika seorang siswa dibisiki bisikan agar berbuat curang semisal mencontek ketika ujian, maka cukup DIAM tidak berbuat/melakukannya.

Jika seorang remaja diajak berbuat tidak senonoh, maka cukup DIAM tidak melakukannya. Jika seseorang diajak/dibisiki hatinya untuk berniat korupsi, maka cukup DIAM dan meninggalkannya sehingga tidak mungkin akan korupsi.

Ketika Nabi Adam as. dilarang oleh Allah Swt. untuk mendekati buah Khuldi kemudian iblis membisikkan dalam hatinya untuk memakan buah kurma, kemudian Nabi Adam as. tidak DIAM, maka akhirnya berliau tidak sabar dalam meninggalkan larangan dan berakhir pada kemurkaan Allah Swt.

2. Sabar dalam Menjalankan Perintah

Sabar dalam level kedua ini lebih aktif dari level yang pertama (pasif). Ia membutuhkan dorongan/tenaga untuk melakukannya. Kata kunci (password) nya adalah MAU melakukan/melaksanakan. Iblis (laknatullah) adalah sosok ciptaan-Nya yang cerdik pandai, dia mengetahui dan mengakui bahwa Allah Swt. adalah Penciptanya, namun ketika Allah Swt. memerintahkannya untuk ‘bersujud’ kepada Nabi Adam as. maka dia TIDAK MAU melakukannya maka Iblis ‘abaa; enggan. Kengganan Iblis berujung pada kemurkaan-Nya, dia tidak sabar dalam menjalankan perintah-Nya.

Ketika seorang muslim diperintahkan melaksanakan shalat lima waktu namun dia tidak mau, maka dia sedang ‘abaa; enggan’ melakukannya walau sebenarnya dia tahu akan perintah itu dan dia tidak sabar dalam menjalankan perintah-Nya.

3. Sabar dalam Menghadapi Kejadian yang Menimpa

Setiap insan yang bernyawa maka tidak akan luput dari ‘tempaan’-Nya baik berupa hal-hal yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Terkadang seseorang ditempa dengan harta, jabatan, pasangan hidup, dan lainnya, juga ditempa dengan musibah, cobaan dan ujian.

Sabar dalam level ini melebihi sabar level 1 (pasif) dan 2 (aktif). Mengapa demikian?

Orang yang ditempa dengan harta (kecukupan) dan dia bersabar maka akan menjadi orang dermawan; menunaikan zakat, berinfak, bersedekah, mewakafkannya, berbagi dengan hartanya dengan orang lain yang membutuhkan (menggunakannya di jalan Allah Swt.).

Namun jika ia tidak bersabar dengan hartanya, bisa jadi ia menjadi seorang pemboros; menghambur-hamburkan hartanya di jalan maksiat; pesta-pora, bersenang-senang (menggunakannya di jalan kemaksiatan)

Sebaliknya, jika seseorang ditempa dengan kekurangan/kesempitan, namun jika ia bersabar maka laksana ‘besi ditempa dalam bara kemuadian membentuk pusaka’ maka ia akan menjadi sosok yang jauh lebih dihargai dan dihormati. Jika ia sabar dan berhasil dari ‘tempaan’ tersebut maka akan menjadi orang yang bersahaja, qana’ah, santun dan tidak sombong. Namun sebaliknya, jika seseorang tidak sabar dengan ‘tempaan’ kekurangan/kesempitan maka ia akan melakukan hal-hal yang negatif (tidak baik) seperti mencuri, merampas, menjambret, dan lain-lain.

Semua amat sangat bergantung pada pribadinya masing-masing:

  1. Jika pribadinya baik, walaupun berhadapan dengan sesuatu yang tidak baik/membahagiakan namun ia bersabar, maka laksana ’emas 24 karat yang berada di sebuah kubangan lumpur’ maka ia tetaplah emas yang senantiasa berharga/bernilai
  2. Jika pribadinya tidak baik, walaupun berada dalam serba kecukupan harta, kedudukan/jabatan maka bukanlah keberkahan hidup yang ia dapati melainkan kegersangan hati, pikiran serta hidup yang tidak tenteram.

Bukankah seorang beriman tidak akan berzina ketika sedang beriman (orang yang melakukan zina maka imannya sedang tidak ada pada dirinya, karena orang beriman tidaklah berzina). Orang beriman ketika mendapatkan musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan) maka akan keluar ucapan yang baik semisal “innaa lillaah: sesungguhnya kami milik Allah Swt.

Intinya…dari suatu ‘tempaan’ yang tidak menyenangkan namun ia bersabar maka akan menjadi pundi-pundi kebaikan baginya. Sebaliknya dari suatu ‘tempaan’ yang menyenangkan namun bisa jadi menjadikan pribadinya tidak semakin baik.

Semoga Allah Swt. yang tidak terbatas kesabaran-Nya senantiasa memberikan kebaikan atas kesabaran yang dilimpahkan kepada kita semua (sesuai kadar/ukurannya masing-masing). Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *