Kisah ini terjadi ketika beliau diangkat menjadi Rasulullah, suatu saat berada di bukit Thursina (gunung Sinai; Mesir) bersama istrinya. Lihat QS. Thaha/20: 17-23

Ketika Musa a.s. melihat cahaya yang berasal dari balik bukit, kemudian beliau mendekatinya dengan harapan dapat mengambil manfaat darinya. Maka terdengarlah suara yang memerintahkan Musa a.s. untuk menanggalkan terompah/alas kakinya dengan alasan berada di daerah Tuwa (tanah suci). Setelah Musa a.s. melepaskan terompahnya, terdengar suara “Aku adalah Tuhanmu”. Sontak saja Musa a.s. ingin melihat wujud Tuhannya, namun dibalas-Nya bahwa Musa a.s. tidak akan bisa melihat-Nya. Kemudian Tuhan menyuruhnya untuk melihat bukit sebelahnya dan ketika Tuhan menampakkan kekuasaan-Nya maka bukit itupun hancur berkeping-keping dan Musa a.s. pun jatuh pingsan. Setelah sadar dan mengakui keagungan-Nya, maka Tuhan menanyai Musa a.s. atas apa yang ada pada genggaman tangan kanannya. Musa a.s. pun menjawab; “Ini adalah tongkatku yang dengannya aku dapat bertelekan, mengambil daun untuk gembalaannya, dan berbagai manfaat lainnya.”



 

Tuhan menyuruhnya untuk melemparkan tongkat tersebut, dan atas kehendaknya (setelah dilempar) menjadi seekor ular yang melata sehingga timbul rasa takut pada Musa a.s.. Namun Tuhan menyuruhnya untuk meraih kembali dan seketika ular itu kembali menjadi tongkat seperti sedia kala. Tuhan menyuruh Musa a.s. untuk menyedekapkan kedua tangannya ke dadanya, seketika terpancarlah cahaya dan beliau pun diutus Allah SWT. untuk menjadi Rasul dan mengingatkan Fir’aun dan kaumnya kembali ke jalan yang benar.

Kisah ini mengisyaratkan kita untuk mawas diri, bahwa apa yang ada pada genggaman kita (harta-benda, kedudukan/jabatan, dll.) yang menurut kita bermanfaat dan mempunyai fungsi sebagaimana tongkat Nabi Musa a.s yang mempunyai banyak manfaat, seketika dapat dirubah/dinampakkan oleh Allah SWT. menjadi sesuatu yang membahayakan dan menakutkan bagi diri kita. Betapa harta-benda menjadikan diri kita kikir dan tamak, dengan jabatan bisa menjadi sombong/angkuh, dengan HP yang kita miliki seringkali melenakan penggunanya, dan seterusnya (membahayakan hati/iman, pikiran, jasmani). Namun Allah SWT. memerintahkan agar tidak melepaskannya melainkan meraih dan menguasainya kembali dengan catatan: segala apa yang dimiliki semata-mata dalam upaya mencerahkan apa yang ada di dalam dada, yaitu hati (iman). Sebaik-baik harta adalah di tangan orang yang beriman, sebaik-baik jabatan adalah di tangan orang yang beriman. Jadi…iman/taqwalah yang menjadi prioritasnya. Bukan rupa ataupun harta-benda yang dijadikan tolak ukur kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. melainkan apa yang ada di dalam dada (iman-taqwa). Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *