Aku sapa Kau. Syahdan, dua orang sahabat karib terpisahkan oleh ruang dan waktu walaupun masih dalam satu tempat tugas. Si A menjadi manager di suatu ‘perusahaan’ yang berada di lantai 5 dan si K menjadi receivtionist di lantai 1 (bawah). Merasa kangen maka si A melemparkan satu lembar uang kertas 50.000-an ke arah sahabatnya yang berada di lantai bawah. Uangpun jatuh tepat mengenai pundaknya, dan si K merasakan ada sesuatu menimpa pundaknya. Setelah diteliti ternyata ada selembar uang kertas 50.000-an, kemudian ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat siapa tahu ada orang yang memberinya. Sang manager yang berada di lantai atas tak kehabisan akal agar sahabatnya di bawah menoleh kepada dirinya. Lantas ia mengambil satu koin receh 100-an dan melemparkannya ke arah sahabatnya, dan…mengenai dahinya.

Kali ini si K merasakan sedikit lebih keras (sakit) pada dahinya karena terkena suatu benda yang ternyata setelah diperhatikan adalah sebuah koin 100-an. Seketika naluri berpikirnya menangkap adanya sumber atau asal muasal jatuhnya uang koin tersebut; dari atas. Langsung saja ia pun menoleh ke atas dan didapatinya sang sahabat (manager) melambaikan tangan sambil tersenyum menyapanya.

Apa yang telah dialami si K sudah barangtentu sering bahkan setiap saat dialami oleh semua manusia pada umumnya. Manakala manusia diberi nikmat (disimbolkan dengan uang kertas 50.000-an) maka mereka pun tidak sedikit yang lupa kepada siapa Sang Pemberinya. Namun ketika ditimpakan kepadanya sesuatu yang menyakitkan (disimbolkan dengan uang koin 100-an) maka kebanyakan mereka baru ingat Sang Pemberinya.

Semoga, kita menjadi manusia yang senantiasa mengingat Sang Pemberi (Nikmat atau Ujian) dalam segala situasi (bersyukur). Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *